ULM Hadirkan Teknologi Membran Ultrafiltrasi, Pesantren PIAT 8 Martapura Kini Miliki Air Minum Layak Konsumsi

24 November 2024

Martapura – Tim dosen dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melalui Program Dosen Wajib Mengabdi (PDWA) berhasil menghadirkan instalasi pengolahan air minum berbasis teknologi membran ultrafiltrasi di lingkungan Pondok Pesantren PIAT 8 Martapura, Kalimantan Selatan. Program pengabdian kepada masyarakat ini menjadi solusi atas persoalan kualitas air yang selama ini dihadapi pesantren.

 

Kegiatan yang dipimpin oleh Dr. Ir. Doni Rahmat Wicakso, ST., M.Eng. bersama tim dosen Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik ULM (Dr. Abubakar Tuhuloula, S.T., M.T., Awali Sir Kautsar Harivram, S.T., M.T., Dr. Ir. Isna Syauqiah, S.T., M.T., dan Rinny Jelita, S.T., M.Eng.) dilaksanakan selama delapan bulan sepanjang 2024 dengan dukungan pendanaan dari PNBP ULM.

 

Terkendala Bakteri dan Nitrat

 

Pondok Pesantren PIAT 8 Martapura (Ma’had Bakkah) yang memiliki sekitar 800 santri sebelumnya mengandalkan air sumur dan PDAM untuk kebutuhan harian. Namun, untuk air minum, pihak pesantren masih bergantung pada air kemasan galon isi ulang.

 

Hasil uji kualitas air menunjukkan adanya kandungan bakteri total Coliform dan Escherichia coli yang melebihi ambang batas, serta kadar nitrat terlarut mencapai 21,819 mg/L. Kondisi tersebut belum memenuhi standar baku mutu air minum sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.

 

Kandungan bakteri Coliform yang tinggi berisiko menimbulkan gangguan kesehatan seperti diare, terutama pada anak-anak dan remaja yang menjadi mayoritas penghuni pesantren.

 

Teknologi Sederhana dan Mudah Dioperasikan

 

Sebagai solusi, tim ULM menerapkan teknologi membran ultrafiltrasi (UF) termodifikasi. Sistem ini terdiri atas enam unit filter sedimen polipropilen dan karbon aktif serta modul membran yang mampu menyaring partikel halus, bakteri, dan kontaminan lainnya.

 

Air sumur dipompakan langsung ke unit membran, kemudian hasil olahan ditampung dalam tangki sebelum didistribusikan sebagai air siap konsumsi.

 

“Teknologi ini dipilih karena sederhana dalam pengoperasian, mudah dalam pemeliharaan, hemat energi, serta dapat dengan mudah dikembangkan sesuai kebutuhan,” ujar Ketua Tim PkM.

 

Hasil pengujian pasca-instalasi menunjukkan peningkatan signifikan kualitas air. Total zat padat terlarut (TDS) turun dari 214 mg/L menjadi 104 mg/L, kekeruhan dari 60,58 NTU menjadi 1 NTU, dan seluruh parameter bakteriologis menunjukkan angka nol. Parameter lain seperti besi, mangan, kesadahan, dan total fosfat juga berada di bawah ambang batas yang dipersyaratkan.

 

Dengan capaian tersebut, air hasil pengolahan dinyatakan memenuhi standar kualitas air minum nasional.

Dampak Sosial dan Edukatif

 

Selain pemasangan instalasi, tim pengabdian juga melakukan sosialisasi serta pelatihan operasional dan pemeliharaan alat kepada pengelola pesantren. Kelompok pengelola air dibentuk untuk memastikan keberlanjutan penggunaan teknologi tersebut.

 

Kehadiran instalasi ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada air kemasan, tetapi juga meningkatkan kesadaran warga pesantren akan pentingnya sanitasi dan penguasaan teknologi tepat guna.

 

Program ini turut dipresentasikan dalam Seminar Nasional Lahan Basah 2024 yang diselenggarakan oleh LPPM ULM pada September 2024 di Banjarmasin.

 

Ke depan, tim ULM berencana melakukan pendampingan lanjutan guna memastikan sistem berjalan optimal serta mendorong replikasi program di lembaga pendidikan lain yang menghadapi persoalan serupa.

 

Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan keagamaan, diharapkan akses terhadap air minum layak konsumsi di Kalimantan Selatan semakin merata dan berkelanjutan.